Senin, 08 November 2010

ular

Pendahuluan


Ular yang termasuk Klas Reptilia sejak dahulu kala  banyak menyimpan misteri kehidupan: dibenci sekaligus dipuja. Dahulu ular dianggap perwujudan setan yang membawa petaka karena menyebabkan Adam diturunkan ke bumi. Bangsa Yunani Kuno mempunyai Dewi Medusa yang digambarkan sebagai wanita cantik berambut ular. Masyarakat Tiongkok memiliki legenda Ular Putih yang terkenal. Masyarakat Jawa mempunyai mitos Nyi Blorong yang dapat memberikan kekayaan.  Masyarakat India dan Sri Lanka memiliki hubungan spiritual yang unik dengan berbagai jenis ular terutama kobra. Dunia banyak memanfaatkan ular untuk seni pertunjukan seperti sirkus dan tari ular. Pengobatan tradisional/alternatif juga banyak memanfaatkan bagian/organ tubuh ular sebagai bahan obat. Dunia Ilmu Pengetahuan juga tidak mau ketinggalan dimana Dunia Kedokteran/Medis menggunakan ular sebagai lambang, baik Kedokteran manusia maupun Kedokteran Hewan (Veteriner).
Dewasa ini pemanfaatan ular tidak hanya terbatas untuk pertunjukan dan pengobatan tetapi juga sebagai satwa kelangenan (pet animals). Sebagai satwa kelangenan, ular memiliki berbagai kelebihan dibanding satwa lain seperti anjing, kucing maupun burung. Anjing, kucing dan burung memerlukan  kandang yang luas dan perawatan intensif setiap hari. Ular menjadi lebih efisien karena tidak membutuhkan kandang yang luas dan tidak perlu makan setiap hari sehingga cocok sebagai satwa kelangenan bagi orang-orang sibuk.
Spesies ular yang paling umum dijadikan satwa kelangenan terutama genus Python, Boa, Morelia dan Liasis. Ular yang hidup liar di alam bebas jarang sekali mengalami gangguan kesehatan, namun ular yang dipelihara sebagai satwa kelangenan dan dipelihara dalam lingkungan manusia, tidak terlepas dari berbagai masalah kesehatan terutama infeksi saluran penafasan, saluran pencernaan dan infestasi parasit. Minimnya data medis dan literature tentang ular (behaviour, diet, reproduksi, obat-obatan, dll.) menjadi kendala bagi dokterhewan (praktisi) dalam menangani kasus-kasus gangguan kesehatan pada ular.
Taksonomi


Kingdom         : Animal
Phylum            : Chordata
Subphylum      : Vertebrata
Classis             : Reptilia
Subclassis        : Lepidosauria
Ordo                : Squamata

Familia
Jumlah Genus
Jumlah Spesies
Leptotyphlopidae
Typhlopidae
Anomalepidae
Acrochordidae
Aniliidae
Uropeltidae
Xenopeltidae
Boidae
Colubridae
Elapidae
Viperidae
Hydrophidae
2
3
4
2
1
8
1
27
292
61
7
1
78
180
20
3
9
44
1
88
1562
236
187
18
12 familia
409 genus
2426 spesies





Anatomi


            Anatomi ular sangat unik dan berbeda dengan reptilia lainnya.Tubuh ular memanjang dan kehilangan anggota gerak (tangan – kaki) sehingga organ tubuhnya juga berdifensiasi secara spesifik.
            Tengkorak  bertipe diapsid modifikasi dengan satu condylus occipital tunggal. Jantung memiliki 3 ruang (1 ventrikel, 2 atrium). Organ pencernaan mengalami modifikasi bentuk menjadi memanjang, limpa dan pancreas bersatu (splenopancreas) dan kantung empedu terpisah dari hepar. Sebagian ular memiliki bisa (venom) dan sebagian lagi memiliki organ pit sebagai pendeteksi panas untuk mengidentifikasi mangsa.
Struktur kulit menebal dan bersisik. Terjadi proses ganti kulit secara keseluruhan (ecdysis) secara periodik. Frekuensi tergantung umur, pakan, pertumbuhan dan temperatur. Ular muda dapat mengalami ecdysis 4 – 6 kali setahun dan  ular dewasa 1 – 2 kali setahun masih dalam batas normal.
 

Kandang


            Kandang ular dapat dibuat dari bahan gelas/kaca aquarium, fiberglass, kayu dan bahan sintetis seperti akrilik maupun plexiglas. Ukuran kandang disesuaikan dengan besar dan panjang ular, tetapi tidak ada batasan yang pasti untuk ukuran kandang. Lingkungan dalam kandang hendaknya dibuat semirip mungkin dengan habitat alaminya. Substrat untuk lantai kandang dapat menggunakan kertas koran, serbuk kayu, pasir/gravel maupun bahan sintetis. Cabang kayu dapat diberikan dalam berbagai ukuran dan ketinggian kandang. Tempat sembunyi dapat disediakan box transparan, kayu gelondongan, batu buatan menyerupai gua dan tanaman buatan.
            Tempat air disesuaikan dengan ukuran kandang dan besarnya ular. Tempat air dapat menggunakan tempayan tanah liat, keramik maupun bahan kaca yang berat sehingga tidak mudah tumpah. Tempat air berbahan plastik biasanya ringan menyebabkan air mudah tumpah dan mengotori kandang. Pada kandang berlantai tanah/semen tempat air minum dapat berupa bak semen permanen dengan lubang pembuangan. Idealnya tempat air dapat dipakai berendam ular sehingga dapat menambah kelembaban menjelang ecdysis. Tempat air harus dibersihkan dan diganti air bersih setiap hari.
Temperatur dan kelembaban kandang dimonitor dengan memasang thermometer dan higrometer. Temperatur ideal dalam kandang berkisar 25 – 30 o C dengan kelembaban 30 – 60 %. Spesies daerah padang pasir membutuhkan kelembaban yang lebih rendah. Kelembaban kandang yang terlalu rendah dapat memicu terjadinya disecdysis/ganti kulit gagal. Apabila temperatur kandang terlalu tinggi dan kelembaban terlalu rendah dapat diatasi dengan menyemprotkan air menggunakan sprayer halus secara periodik. Penambahan panas buatan seperti heating pad dan lampu penghangat harus hati-hati supaya tidak terjadi kasus kesetrum. Kandang yang tidak memungkinkan ular mendapat sinar matahari sebaiknya diberi lampu ultraviolet secara periodik.
            Disain kandang model kaca aquarium atau kandang besar sebaiknya memiliki tutup yang rapat untuk menghindari ular melarikan diri. Lubang kecil yang tampak lebih kecil dari badan ular dapat digunakan untuk meloloskan diri karena pada ular apabila kepala dapat masuk maka badan akan dapat melaluinya. Lubang ventilasi sebagai sarana pergantian udara dapat dibuat menggunakan kawat ram halus/strimin yang diberi bingkai sehingga tidak melukai rostrum dan kulit ular pada saat berusaha melarikan diri. Asesoris pendukung dalam kandang disesuaikan dengan jenis/spesies ular yang dipelihara, misalnya cabang/ranting kayu untuk spesies arboreal dan kayu gelondongan atau batu-batuan untuk spesies terrestrial.


Pakan


            Ular umumnya lebih menyukai mangsa hidup daripada pakan mati. Pakan yang biasa diberikan pada ular peliharaan dapat berupa mencit, tikus, katak, burung puyuh, ayam, dan mamalia kecil lain seperti marmut dan kelinci serta anak babi. Beberapa spesies aquatik hanya memangsa ikan dan amfibi (katak).
            Ular yang dipelihara sebaiknya dilatih untuk memakan pakan mati terutama rodensia. Jika  harus menginduksi dengan pakan hidup sebaiknya ditunggu sampai mangsa dibunuh dan dimangsa. Pakan rodensia hidup bila tidak segera dimangsa hendaknya segera dikeluarkan dari kandang karena dapat menyerang ular. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan diatas permukaan keras dan bersih agar substrat kandang tidak ikut tertelan. Jumlah dan frekuensi pemberian pakan didasarkan pada observasi, rutinitas defekasi, behavior dan kebutuhan fisiologis. Ular yang sedang tumbuh  dan menjelang reproduksi (musim kawin) jumlah dan frekuensi makan  lebih banyak. Sebagai gambaran umum, ular python kurang dari 1 meter dapat memangsa 1-2 ekor mencit tiap 7 – 10 hari sekali dan seekor python dewasa dengan panjang 4 – 5 meter dapat memangsa 3 – 4 ekor ayam dewasa tiap 2 – 3 bulan sekali atau seekor anak kambing setiap 2 bulan sekali.

Perawatan Kesehatan

            Kebersihan menjadi kunci utama kesehatan ular dalam peliharaan.  Kebersihan ular dilakukan dengan memandikan ular secara periodic. Mandi ini dilakukan terutama setelah urinasi/defekasi. Frekuensi mandi dapat 2 – 3 kali per minggu.  Cara memandikan dengan memasukkan ular kedalam bak besar berisi air dan bila perlu disabun/sampoo untuk membersihkan kulit dari kotoran yang menempel pada permukaan kulit. Gunakan sabun/sampo bayi yang lembut supaya tidak menyebabkan iritasi dan merusak kulit. Selesai mandi segera dikeringkan dengan kain lap/handuk. Adakalanya ular menolak dikeluarkan dari bak air, bila ini terjadi biarkan ular berendam dalam air selama beberapa menit samapai beberapa jam baru diangkat.   Ular baru dimasukkan kembali kedalam kandang etelah kondisinya benar-benar kering.
            Kebersihan kandang dijaga dengan mengganti substrat alas kandang secara periodik. Substrat alas kandang berupa pasir/gravel dan serbuk kayu paling cocok digunakan untuk kandang besar berlantai semen/tanah karena dapat menyerap air dan memberi suasana dingin/sejuk dalam kandang, namun membutuhkan ketelatenan dalam membersihkan. Namun material ini kurang cocok untuk digunakan pada kandang aquarium karena cuaca di negara tropis yang cenderung hangat dan lembab memicu tumbuhnya jamur dan mikroorganisme pathogen. Penggunaan kertas koran sebagai alas kandang cocok untuk kandang model aquarium. Alas ini hendaknya segera diganti apabila ular urinasi/defekasi ataupun basah karena air minum yang trumpah.
            Pemeriksaan kesehatan secara umum hendaknya dilakukan secara periodik. Idealnya sebulan sekali dilakukan general check up untuk mengetahui kondisi kesehatan secara umum dan mengetahui adanya kelainan secara dini. Pemeriksaan yang harus dilakukan meliputi pemeriksaan umum, pemeriksaan kepala, mulut, gigi, mata, kulit, muskuloskeletal, auskultasi organ dalam, kloaka dan ekor. Adanya kelainan pada saat pemeriksaan hendaknya segera dilakukan pemeriksaan  laboratoris secara lebih detail untuk dapat menentukan langkah penanganan dan pengobatan. Pemeriksaan gigi penting dilakukan untuk mengetahui adanya gigi tanggal yang terjebak dalam mukosa mulut/ginggiva yang dapat menyebabkan anoreksia dan stomatitis.
            Gangguan kesehatan yang umum dijumpai pada ular peliharaan bisanya berupa anoreksia/menolak makan, luka traumatik, fraktur tulang spinal, konstipasi dan distokia. Gangguan ini umumnya terjadi karena mismanagemant dan improper diets. Cara mengatasinya adalah dengan perbaikan manajemen perawatan dan manajeman pakan.  Gangguan berupa penyakit umumnya berupa infestasi parasit baik eksternal maupun internal dan infeksi oleh mikroorganisme biasanya viral yang diikuti infeksi sekunder bakteri. Infeksi viral yang disertai bacterial seringkali ditemukan pada kasus mouth rot/stomatitis, infeksi saluran pernafasan dan infeksi saluran pencernaan. Penanganan penyakit infeksi ini dengan pemberian obat-obatan yang sesuai dengan agen penyebabnya. Pemberian  obat/medikasi harus dilakukan oleh seorang dokterhewan supaya pengobatan tepat untuk menghindari overdosis obat dan resistensi agen penyakit karena pengobatan yang salah.


Tips bagi Pemelihara Ular

Ø  Ular baru harus dikarantina minimal selama 90 hari sebelum berinteraksi dengan koleksi ular lainnya
Ø  Lakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik pada dokterhewan untuk mengetahui kondisi kesehatan dan perkembangan ular anda
Ø  Penentuan jenis kelamin/sexing penting dilakukan agar ular berjenis kelamin sama tidak dicampur dalam satu kandang. Saat musim kawin jantan dewasa biasanya menjadi lebih aktif dan agresif.
Ø  Ular non venomous dapat dihandling tanpa alat, namun ular-ular venomous harus dihandling dengan alat bantu seperti plastic tubing, grab stick atau snake hook.
Ø  Ular sebaiknya tidak dipegang selama proses ganti kulit/ecdysis karena kulit muda yang belum sempurna gampang rusak dan kulit tua akan banyak menempel pada tangan sehingga menyebabkan stress fisiologis pada ular.
Ø  Hindari ular anda menjadi terlalu gemuk/obesitas. Obesitas pada ular peliharaan memicu munculnya penyakit degeneratif dan patah tulang punggung (fractur os vertebrae).
Ø  Manajemen perawatan yang baik menghasilkan ular yang sehat, jinak dan menarik.
Daftar Pustaka

Beynon, P.H., Lawton, M.P.C. and Cooper, J.E.  1992, Manual of Reptiles
British Small Animal Veterinary Association, Cheltenham.

Capula, M. 1989, Simon & Schuster’s Guide to Reptiles and Amphibians
of the World, Simon & Schuster Book Inc. New York.

Carpenter, J.W., Mashima, T.Y. and Rupiper, D.J. 2001. Exotics Animal
Formulary, 2nd  ed. WB Saunder Co. NY.

Cooper, J.E. and  Sainsbury, A.W., 1995. Exotic Species,  Mosby-Wolfe, London

Fowler, M.E. 1993. Zoo and Wild Animal Medicine Current Therapy. 3rd ed.
WB Saunders Company, Philadelphia

Frank, N. & Ramus, E.  1996. A Complete Guide to Scientific and Common
Names of Reptiles and Amphibians of the World.
N G Publishing, Pottsville.

Frye, F.L. 1991 a. Reptiles Care, an Atlas of Diseases and Treatment Vol. I.
TFH Publication Inc. New Jersey.

Frye, F. L. 1991 b. The Biomedical and Surgical Aspect of Captive Reptile
 Husbandry. Krieger, Malabar, Florida

Gans, C. 1975. Reptiles of the World. A Ridge Press Book.
Grosset & Dunlap Publishers Co. New York.

Grzimek, B. 1975. Animal Life Encyclopaedia, Vol. 6. Von Nostrand Reinhold Co.

Mader, D.R. 1996. Reptile Medicine and Surgery, WB Saunders Co. Philadelphia

Messonier, S.P. 1996. Common Reptile Diseases and Treatment. Blackwell.
Cambridge, Massachusetts.

Sharp,I. And Compost, A. 1994. Green Indonesia, Tropical forest Encounters.
Oxford University Press, Oxford.

Waters, M., Zwart, P. and Frye, F.L. 2000. A Guide to Snake,
A Royal Veterinary College. Cambridge, Massachusetts.


.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

0 komentar:

Poskan Komentar

Avançar Inicio
 

Topo